Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro, Merawat Seni Budaya Jawa di Batam
DNM.INFO KEPRI BATAM — Keberagaman budaya yang tumbuh di Kota Batam menjadi salah satu kekayaan yang terus hidup di tengah masyarakat. Salah satunya adalah seni budaya Jawa yang hingga kini tetap dijaga, dikembangkan dan diwariskan melalui berbagai sanggar kesenian.(26/08/2026)
Salah satu yang konsisten menjaga keberadaan kesenian tersebut adalah Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro yang dipimpin oleh Eko. Sanggar ini menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya para pecinta seni budaya Jawa, untuk berkumpul, belajar, berkesenian sekaligus memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda.
Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro resmi terbentuk pada 18 Agustus 2019. Memasuki usia tujuh tahun, perjalanan sanggar tidak terlepas dari semangat para pengurus, anggota dan masyarakat yang secara mandiri ikut mempertahankan keberadaan seni budaya tradisional di Kota Batam.
Dalam wawancara, Ketua Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro, Eko, menjelaskan bahwa sanggar tersebut lahir dari keinginan untuk membangun wadah seni budaya yang dapat menjadi tempat berkumpul dan mengembangkan berbagai kesenian Jawa.
Menurutnya, keberadaan sanggar bukan sekadar tempat pertunjukan. Lebih dari itu, sanggar menjadi ruang untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak dan generasi muda agar mereka tetap memiliki kecintaan terhadap warisan budaya leluhur.
Berdiri Secara Mandiri dan Kini Berbentuk Yayasan
Dalam perkembangannya, Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro telah memiliki legalitas dalam bentuk yayasan seni budaya. Legalitas tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat organisasi sekaligus menjaga keberlangsungan berbagai kegiatan sanggar.
Menariknya, perjalanan sanggar ini dibangun secara mandiri dengan mengandalkan semangat para pengurus, anggota serta dukungan masyarakat.
Hingga saat ini, jumlah anggota Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro mencapai kurang lebih 70 orang, yang terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa seni budaya tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat Batam.
Tidak hanya generasi tua yang terlibat, anak-anak dan generasi muda juga diberikan ruang untuk mengenal, mempelajari dan ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan kesenian.
Kuda Lumping Jadi Salah Satu Kesenian yang Terus Dikembangkan
Salah satu kesenian yang menjadi bagian penting dalam kegiatan Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro adalah kuda lumping.
Kesenian tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya sanggar dalam mempertahankan warisan budaya Jawa agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Bahkan, proses pembuatan properti kuda lumping dilakukan langsung oleh Ketua Sanggar, Eko. Keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk keseriusan pimpinan sanggar dalam menjaga keberlangsungan kesenian yang mereka tampilkan.
Bagi Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro, melestarikan budaya bukan hanya soal tampil di atas panggung. Lebih jauh, setiap unsur kesenian harus tetap dipelajari, dibuat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Harlah ke-7 Digelar 30 Agustus 2026
Memperingati perjalanan tujuh tahun berdirinya Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro, pihak sanggar akan menggelar Hari Lahir (Harlah) ke-7.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada:
Minggu, 30 Agustus 2026
Lokasi: Lapangan Bola Tanjung Sengkuang, Batam
Harlah ke-7 diharapkan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi seluruh anggota, pengurus, keluarga besar sanggar serta masyarakat yang selama ini memberikan dukungan.
Selain menjadi perayaan perjalanan sanggar, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih luas seni budaya Jawa kepada masyarakat Kota Batam.
Ketua Sanggar: Batam Kaya Seni dan Budaya
Eko menilai Kota Batam memiliki potensi seni dan budaya yang sangat besar. Berbagai kelompok masyarakat dari berbagai daerah hidup berdampingan di Batam sehingga melahirkan keberagaman budaya yang sangat luas.
Karena itu, menurutnya, berbagai kesenian yang ada di Batam perlu terus diberikan ruang untuk berkembang.
Ia berharap pemerintah, paguyuban, komunitas seni, masyarakat dan seluruh pihak terkait dapat bersama-sama memberikan perhatian terhadap keberadaan sanggar-sanggar seni budaya.
Dukungan tersebut dinilai penting agar sanggar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menciptakan generasi baru yang memiliki kecintaan terhadap budaya daerah.
Harapan ke Depan, Jangan Sampai Seni Tradisional Hilang
Memasuki usia tujuh tahun, Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro berharap perjalanan ke depan dapat semakin berkembang dan memiliki kesempatan lebih luas untuk tampil serta memperkenalkan seni budaya kepada masyarakat.
Ketua sanggar juga berharap adanya dukungan dan perhatian dari berbagai pihak agar kegiatan kesenian dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Menurutnya, seni budaya harus dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Sebab, jika generasi muda tidak lagi mengenal kesenian tradisional, bukan tidak mungkin berbagai budaya tersebut perlahan kehilangan penerus.
Karena itu, keberadaan sekitar 70 anggota dari berbagai usia menjadi modal penting bagi Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro untuk terus berkembang.
Dari anak-anak hingga orang tua, semuanya memiliki peran dalam menjaga budaya agar tetap hidup.
Sanggar Bathoro Mayang Nusantoro pun ingin menjadikan usia tujuh tahun bukan sekadar angka perjalanan organisasi, tetapi sebagai langkah baru untuk semakin aktif mengembangkan dan memperkenalkan seni budaya Jawa di Kota Batam.
Dengan semangat kebersamaan, kemandirian dan dukungan masyarakat, sanggar ini berharap seni budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat serta warisan yang terus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Seni boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi akar budaya harus tetap dijaga.